TAKDIR DALAM PENGERTIAN ISLAM

Posted by Bang Nonki Jumat, 19 Maret 2010

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya, baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempat, maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini ada takdirnya, termasuk manusia.

TAKDIR DALAM AGAMA ISLAM
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

DIMENSI KETUHANAN
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (QS. Al Hadid [57]:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya). (QS. Al-Furqaan25]:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj[22]:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (QS. Al Maa'idah[5]:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya. (QS. Al-An'am[6]:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. (QS. As-Safat[37]:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman[31]:22). Allah yang menentukan segala akibat.
DIMENSI KEMANUSIAAN
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar Ra'd[13]:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk[67]:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (QS. Al-Baqarah[2]:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (QS. Al Kahfi[18]:29)
IMPLIKSI IMAN KEPADA TAKDIR
Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (QS. Al Hadiid[57]:23).

Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.



15 Komentar

  1. indra menulis:
  2. QS. Al-Furqaan25:2 bertentangan dengan QS. Ar Ra'd 13:11
    dan jika ALLAH menentukan takdir setiap manusia, seorang pencuri pun juga semestinya sudah di takdirkan menjadi pencuri dan ALLAH memiliki sifat maha adil. Apakah adil seorang akan ditakdirkan menjadi pencuri dan keputusan ALLAH tidak dapat di ganggu gugat lagi ?

     
  3. Bang Nonki menulis:
  4. Yth. Dik Indra,
    Terima kasih atas komentar, sekaligus pendapat Dik Indra perihal di atas. Untuk itu, tanpa maksud untuk berpolemik, apalagi mempertentangkan ayat-ayat Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya merupakan Kalamullah (Wahyu atau Firman Allah Subhanahuwata'ala), maka ijinkan saya coba menanggapinya secara ringkas begini:

    Pertama: Jika sungguh-sungguh diperhatikan, sesungguhnya ayat-ayat Al-Quran yang dipetik oleh penulis dalam artikel di atas cukup jelas saling menerangkan antara yang satu dengan yang lain khususnya menyangkut takdir menurut pengertian Islam.

    Kedua: Dalam ajaran Islam takdir termasuk dalam kategori ghaib, dan segala sesuatu menyangkut masalah ghaib hanya ALLAH Subhanahuwata'ala saja yang Maha Mengetahui.

    Ketiga: Menjadi pencuri atau tidak, jelas bukan merupakan hal ghaib, sebab kita, sebagai manusia, dapat memilih ingin menjadi yang mana. Tidak sama halnya dengan mendapat lotre atau mati misalnya. Kita tidak dapat memilih kapan atau bagaimana kita akan mendapat lotre atau mati, sebab dua hal tersebut merupakan takdir (hal ghaib) yang hanya diketahui oleh ALLAH Subhanahuwata'ala semata.

    Adapun tentang hal-hal atau perbuatan yang bebas kita pilih sendiri, di dalam Al-Quran banyak ditemui peringatan dan larangan khususnya untuk melakukan perbuatan melawan hukum ALLAH Subhanahuwata'ala, termasuk di dalamnya menjadi pencuri. Perhatikanlah sekali lagi maksud yang terkandung dalam (QS. Al Mulk[67]:2) di atas.

    Keempat: Khusus untuk contoh yang Dik Indra pilih sendiri, ada baiknya saya tambahkan salahsatu firman ALLAH berikut ini: "Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Maa-idah[5]:39).

    Ayat yang saya tambahkan ini menguatkan penjelasan ketiga di atas bahwa sekali lagi, menjadi pencuri atau tidak, jelas merupakan pilihan kita sendiri yang dalam konteks ini juga cukup jelas termasuk yang sudah diingatkan oleh ALLAH Subhanahuwata'ala sebagai perbuatan melawan hukum-Nya. Hanya bertaubat (dengan sebenar-benar taubatlah) yang memungkinkan kita mendapatkan pengampunan dari-Nya.

    Oleh karena itu, seorang Muslim yang sungguh-sungguh beriman (termasuk memahami dengan baik maksud yang terkandung dalam pengertian takdir), meski didera oleh berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-harinya, Insya Allah, akan tetap berikhtiar (tidak henti berusaha mengatasi persoalan hidupnya menurut cara-cara yang diajarkan oleh ALLAH Subhanahuwata'ala), berdoa (memohon bantuan dari ALLAH Subhanahuwata'ala), dan tawakal (menyerahkan dengan sepenuh hati apa pun hasil usahanya nanti pada keputusan ALLAH Subhanahuwata'ala) sebagai ganti memilih untuk menjadi pencuri.

    Bagi sebagian orang, bisa jadi hal ini dianggap sebagai perbuatan bodoh. Namun apalah artinya kehidupan dunia yang sangat singkat ini (walau mungkin dipenuhi dengan segala kesulitan) bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi, berada di tempat terbaik di sisi ALLAH Subhanahuwata'ala sebagaimana yang sudah dijanjikan-Nya bagi siapa saja yang tunduk, patuh, dan berserah diri kepada-Nya?

    Semoga tanggapan ini dapat membantu Dik Indra lebih memahami ajaran Islam, khususnya menyangkut takdir.

    Salam.

     
  5. Anonim menulis:
  6. jadi apakah takdir manusia mau jadi apa dapat di ubah oleh manusia itu sendiri ? berarti takdir manusia dapat di ubah dengan usahanya ? (tanpa melupakan Allah) ?

     
  7. mas ditho menulis:
  8. Tanya Bang
    Untuk takdir yang menyangkut mati, seperti yang telah ditiupkan ruh ketika kita dalam kandungan merupakan janji kita kapan dan dimana kita mati, walaupun dengan doa yang sudah kita amalkan apakah tidak dapat kita hindari musibah yang akan menimpah kita.
    Terima Kasih sebelumnya.

     
  9. rizky menulis:
  10. lalu yg saya tanyakan adalah pd as-saffat ayat 96 itu gmana ka bkanya jika allah menciptakan perbuatan kita jika saya bermaksiat apakah itu di buat pleh allah ? dan pasti itu saya akanb dapat dosa

     
  11. ardi menulis:
  12. kala perbuatan maksiat dan merebut suami orang lain apa kah di sebut takdir juga
    maaf numpang comen,mohon di jawab trima ksih

     
  13. Anonim menulis:
  14. Sesungguhnya takdir jelek atau tidak itu dari Allah, kenapa ?
    karena dalam Alquran di surat Asy-Syam (91) ayat 8 yang artinya,
    "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (Jalan) kefasikan dan ketakwaan."
    Demikian, memang takdir itu merupakan misteri yang sampai sekarang belum bisa terungkap.

     
  15. eko widodo menulis:
  16. ijin menambahkan takdir alloh swt sifatnya mutlak haq alloh kepada makhluknya dimana itu sudah ditetapkan dlm lauhul mahfudz,menanggapi pertanyaan diatas setiap manusia ditakdirkan dia sebagai ahli surga atau ahli neraka dimana alloh akan memudahkan utk menuju jalan tsb sewaktu didunia,kita sbg manusia sbg kalifah di bumi dibekali akal fikiran dan hati utk memilih jalan tersebut disertai doa smg kita jadi ahli surga

     
  17. eko widodo menulis:
  18. dan menambahkan lagi kita manusia tempatnya dosa dan sbg muslim insya alloh kita sbg ahli surga tergantung cepat atau lambat kita memasukinya stl kita dibersihkan di neraka,kan dah jelas firman alloh swt setiap perbuatan sekecil apapun baik baik/buruk akan dibalas

     
  19. Anonim menulis:
  20. sebaiknya kita tidak memperdebatkan takdir
    cuma Allah yg tau!!! lebih mudahnya segala yg telah terjadi itu takdir(yg kita tau),segala yg akan terjadi itu jg takdir(hanya Allah yg tau)
    kita mau di jungkirbalikan mau di mulyakan itu terserah Allah itu hak Allah!!!!
    hanya rahmat Allah yg akan menolong kita dr api neraka....gmn agar mendapat rahmat Allah sudah di terangkan di Alquran dan Hadist. itu pendapat saya sebagai orang awam

     
  21. yudi darmo menulis:
  22. Sdr Anonim QS.91:8 merupakan bukti bahwa manusia terlahir dg diberi ilhaman yg buruk dan baik.Jadi kalau kita berbuat buruk atau baik itu pilihan,sesuai dg QS.91:9-10 yaitu beruntunglah org yg mensucikan (pahala)dan merugilah org yg mengotori (dosa/neraka).Yg sebenarnya manusia itu diuji perbuatannya bukan ditakdirkan tapi diuji spt QS:18:7, QS.21:35,dan sangat byk surah yg menyatakan tentang ujian pd manusia.Sedangkan sesuatu yg tdk bisa dirubah manusia itu bisa disebut hukum Allah atau takdir misalnya peredaran matahari,bulan bumi,pohon durian buahnya besar sedang anggur atau beringin buahnya kecil dll,semua ini manusia tdk dpt berbuat apa apa selain menerima.Tetapi Setiap perbuatan itu pilihan dan akan diminta pertanggung jawabannya diakherat tapi yg manusia tdk dpt memilih seperti hidung mancung,kulit putih atau hitam dll tdk akan ditanya atau diminta pertanggung jawaban diakherat krn itu sudah takdir atau kehendak Allah. Pengertian takdir yg salah dpt mengakibatkan fitnah kepada Allah seperti mencuri,berzinah dan segala kemaksiatan itu sudah takdir Allah padahal perbuatan maksiat itu bukan perintah Allah tapi perintah setan. Bagaimana mungkin Allah yg tdk memerintahkan bahkan mengutuk dan benci pd kemaksiatan sementara kita mengatakan itu sebagai takdir atau keputusan mutlak dr Allah.

     
  23. Anonim menulis:
  24. Assalamua'laikum saudaraku...apapun liku-liku kehidupan yg terjadi pada kita (baik atau buruk),kita harus ikhlas menerimanya dan selalu positif thinking kpd Alloh serta terus dan terus berusaha untuk tetap pada jalur keislaman kita. semoga kita semua ditaqdirkan oleh Alloh menjadi ahlul jannah, aamiin ya robbal a'lamin

     
  25. Sedikit ingin berbagi tentang bagaimana takdir Allah bekerja untuk kita adalah dengan memahami pola struktur geometri bangunan Ka’bah dan pola susunan Al Qur’an serta pola gerak Asmaul Husna yang dapat di baca pada : http://www.polaruangalquran.blogspot.com pada tulisan berjudul : manhaj al bait al atiq
    Yang pada intinya takdir Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Takdir Allah bukanlah sebuah garis lurus melainkan sebuah RUANG yang tersusun dari begitu banyak garis yang saling bersimpangan dan saling mempengaruhi.

     
  26. Ade Septian menulis:
  27. Sebenar nya takdir itu bisa di rubah/tidak ?

     
  28. Anonim menulis:
  29. Menurut saya, takdir tidak bisa diubah oleh manusia, yang bisa mengubah takdir adalah Allah swt itu sendiri.
    Kenapa demikian ? karena yang membuat takdir adalah Allah swt jadi sangat logis kalau Allah swt bisa saja menghapus atau menetapkan.

    Pertanyaan berikutnya adalah
    1. Bagaimana seorang pencuri yang bertobat kembali ke jalan yang benar ?
    2. Bagaimana seseorang yang bekerja & berdoa kemudian sukses ?
    3. Atau bagaimana dengan contoh-contoh kasus yang lain ?

    Jawabannya semua sama, yakni baik yang berusaha atau tidak, yang berdoa atau tidak, yang bertobat atau tidak dan lain-lain adalah (semua itu) merupakan bagian dari takdir manusia itu sendiri yang sdh ditetapkan oleh Allah swt sebelumnya.

    Kalau begitu Allah swt tidak adil ?
    Manusia tidak akan pernah tahu diperlakukan adil atau tidak, sebab manusia tidak akan pernah tahu wujud takdirnya seperti apa. Allah swt tidak adil kalau manusia sdh tahu takdirnya, tapi mustahil bukan?
    Supaya lebih yakin takdir kita baik, mari sama-sama tetap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sampai jiwa berpisah dengan raga.

    Bagaimana firman2 Allah swt yg berisi ajakan berbuat baik ? memangnya Allah swt tidak tahu apa yg akan dikerjakan manusia ?
    Ayat2 yang menjelaskan seperti itu, merupakan contoh yang dituntunkan oleh Allah swt kpd manusia dg lainnya agar saling ingat mengingatkan dalam kebaikan.
    Soal berhasil atau tidak, itu wilayah Allah swt.

     

Poskan Komentar

PENGASUH


Agus . Haris . Nonki
Lihat Profil

FIND US ON FACEBOOK

PETIKAN HADITS


Random Hadith Widget

READ ME IN YOUR LANGUAGE

Translate to Arabic Translate to Bahasa Indonesia Translate to Bulgarian Translate to Simplified Chinese Translate to Croatian Translate to English Translate to Czech Translate to Danish TTranslate to Dutch Translate to Finnish Translate to French Translate to German Translate to Greek Translate to Hindi Translate to Italian Translate to Japanese Translate to Korean Translate to Norwegian Translate to Polish Translate to Portuguese Translate to Romanian Translate to Russian Translate to Spanish Translate to Swedish Translate to Slovak Translate to Serbian Translate to Thai Translate to Turkey Translate to Filipino Translate to Filipino

SEARCH FOR MORE

Memuat...

ARTIKEL TERBARU



KOMENTAR TERBARU

KOMENTAR TERBANYAK

KABAR-KABARI

Klik Saya
Untuk Membantu Anda
BERITAHU SESEORANG
Tentang Blog Ini

ARTIKEL TERBARU SERAMBI MENGAJI